Setelah delapan jam duduk mendengarkan Sherly Juanda, Ernest Prakasa, Armand Hartono, William dari Vivere Group, COO HMNS, Salman dari Paragon, dan Haryanto berbicara di BYC Festival kemarin, ada satu hal yang mengganggu saya di perjalanan pulang — bukan karena ada pesan yang saya tidak setuju, tapi karena ada pola yang muncul terlalu konsisten dari mulut orang-orang yang seharusnya tidak saling koordinasi.
Orang-orang ini datang dari industri yang sangat berbeda: perbankan, film, kecantikan, salon, parfum, properti, dan investasi. Skala bisnis mereka juga berbeda-beda. Tapi ketika saya rapikan catatan saya semalam, saya menemukan tiga hal yang mereka semua ucapkan dengan bahasa masing-masing — dan ketiganya justru bertolak belakang dengan retorika yang biasa muncul di seminar bisnis kebanyakan.
Pak Kosasih dari BCA sendiri membuka acara dengan pesan yang tampak sederhana: kolaborasi dan adaptasi teknologi dengan tepat. Komunitas BYC yang 20.000 anggota itu, kata beliau, adalah cara BCA beradaptasi dengan nasabahnya, bukan sekadar program loyalty biasa. Saya catat ide ini di halaman pertama karena PPL juga sedang memikirkan hal serupa untuk basis pelanggan kami. Tapi bukan itu bagian yang paling menempel di kepala saya sampai malam.
Pola Pertama: Bisnis Besar Berbicara Tentang “Sorting”, Bukan “Training”
Pak Armand Hartono punya satu kalimat yang membuat saya diam beberapa detik. Dalam pelayanan bagus di BCA, kata beliau, yang penting itu sorting dulu, baru training. BCA punya 27.000 karyawan dan training center yang serius, tapi menurut beliau, jauh lebih penting untuk memilih orang yang tepat di depan daripada mati-matian melatih orang yang salah di belakang. Analoginya: nasi goreng yang enak butuh bumbu dan resep yang benar; jasa yang bagus butuh people, process, dan technology — dan kualitas people-nya ditentukan di titik seleksi, bukan di pemolesan setelahnya.
May May Salon menegaskan hal yang sama dari sudut yang berbeda. Turnover di industri salon memang tinggi sehingga mereka investasi besar di pelatihan sikap dan SOP yang konsisten, tapi standar hospitality mereka tetap dijaga di titik seleksi SDM. Ada pelanggan mereka yang sudah 3 generasi loyal, dan itu tidak terjadi karena kampanye marketing.
Saya pulang dengan pertanyaan yang tidak nyaman untuk PPL: berapa persen dari energi manajemen saya habiskan untuk memperbaiki orang yang mestinya tidak masuk sejak awal? Kalau jawabannya lebih dari 20%, artinya sistem rekrutmen kami bocor di hulu, dan itu yang harus diperbaiki duluan — bukan program training-nya.
Pola Kedua: Skala Besar Justru Membuat Kepedulian Lebih Penting, Bukan Sebaliknya
Ernest Prakasa mengucapkan sesuatu yang jarang keluar dari mulut orang yang bicara soal profit 40 miliar bersih dari film Ngeri-Ngeri Sedap. Kata beliau, karyawan tetapnya 40 orang, dan ketika sedang produksi film jumlahnya bisa naik jadi 200, dan dia harus truly care pada mereka semua — bukan care basa-basi untuk konten media sosial. Ini beliau ucapkan sambil bicara soal bagaimana original story menjadi satu-satunya cara perusahaan film kecil bisa menang di era IP raksasa seperti Disney.
Pak Armand memperkuat hal yang sama dengan bahasa yang lain. Menurut beliau, bisnis pada dasarnya adalah aktivitas bantu-membantu, dan BCA sekadar platform tempat itu terjadi dalam skala besar. Bu Sherly Juanda bahkan lebih tajam lagi: kalau tujuannya kejar uang, tidak akan pernah cukup. Yang membuat seorang pengusaha tetap berdiri ketika jatuh adalah integritas, networking, dan kemampuan bersyukur — bukan angka di rekening.
Yang menarik, mereka bertiga adalah yang paling besar bisnisnya di ruangan itu. Bukan idealis muda yang belum kena benturan pasar. Ucapan mereka bukan naifitas — itu justifikasi dari dua dekade lebih tarung di lapangan.
Pola Ketiga: Disiplin Personal yang Nyaris Tidak Manusiawi
Bagian yang paling mengguncang saya justru muncul dari Haryanto. Beliau bilang setiap pagi push up 1.000 kali dalam satu jam. Bangun sangat pagi. Hobinya menembak, dan filosofi menembaknya adalah soal timing yang presisi. Beliau membaca dan menghafal buku sebagai hobi harian. Ketika ditanya soal definisi sukses, jawabannya bukan angka — melainkan berapa banyak orang yang hidupnya menjadi lebih baik karena disentuh oleh kita.
Pak Armand bangun jam 4-5 pagi setiap hari, main tenis, dan membaca buku sejarah. Sherly Juanda pernah 5 tahun menjadi ibu rumah tangga yang awalnya sangat tidak dia sukai, tapi dari sana justru grit-nya terbangun karena dia belajar meng-enjoy apa yang tidak dia pilih.

Polanya muncul di terlalu banyak panggung untuk saya abaikan. Orang-orang yang sampai ke level ini semuanya membangun rutinitas fisik dan mental yang berat jauh sebelum bisnis mereka besar. Mereka tidak menunggu sukses untuk mulai disiplin; disiplin dulu yang mereka bayar di depan, dan sukses datang belakangan sebagai konsekuensi.
Yang Saya Bawa Pulang untuk PPL
Dari BYC Festival ini, saya menulis tiga komitmen di catatan tim. Pertama, audit ulang proses sorting sebelum menambah program training — energi yang habis untuk memoles orang yang salah tidak akan pernah kembali dalam bentuk performa. Kedua, jangan malu bicara soal care secara terang-terangan di dalam tim; bisnis paling besar di ruangan itu justru yang paling eksplisit menyebut kepedulian sebagai fondasi, bukan sebagai basa-basi HR. Ketiga, disiplin personal saya adalah precondition untuk menuntut kultur disiplin di lima cabang — bukan hadiah setelah PPL jadi besar.
Pak Kosasih bilang di awal acara: kolaborasi dan adaptasi teknologi dengan tepat. Setelah delapan jam mendengarkan orang-orang yang sudah menang, saya menambah dua kata di depannya untuk diri saya sendiri: pilih orang yang tepat, peduli dengan sungguh-sungguh, barulah kolaborasi dan adaptasi teknologi itu punya arti.
Karena tanpa dua hal pertama, teknologi hanyalah alat untuk mempercepat kekacauan.

Leave a comment