Sabtu, 26 Juli 2025 adalah salah satu hari yang tak terlupakan dalam perjalanan saya di Bali. Mulai dari jogging segar di Bukit Campuhan hingga tidur malam di tepi pantai Balian, semuanya terasa seperti rangkaian lukisan hidup yang penuh warna, budaya, dan kejutan tak terduga. Inilah kisah lengkapnya.

🌄 Pagi yang Menyegarkan di Bukit Campuhan

Hari dimulai dengan kegiatan yang cukup menantang: jogging dan jalan santai di Bukit Campuhan, Ubud. Rute ini memakan waktu sekitar 45 menit pulang-pergi, dengan jalur yang agak menanjak dan menurun, jadi kondisi fisik memang perlu disiapkan sebelumnya.

Meskipun cukup menguras tenaga, semua terbayar lunas oleh pemandangan alam yang menakjubkan. Kiri kanan jalur dipenuhi hijauan lebat, aliran air yang mengalir tenang, dan udara pagi yang menyegarkan paru-paru. Di sepanjang jalur juga terdapat sebuah pura, meskipun saat saya datang, pura tersebut dalam kondisi tertutup.

Di ujung jalur, tepat di puncak bukit, terdapat sebuah kawasan suci bernama Pura Gunung Lebah. Keheningan dan kesakralannya memberikan energi spiritual yang kuat, seakan alam dan budaya Bali menyatu dalam harmoni.

🏨 Hotel Gentari Ubud: Nyaman, Artistik, dan Menginspirasi

Usai dari Campuhan, kami check-in di Hotel Gentari Ubud, sebuah hotel yang lebih terasa seperti villa pribadi. Kamar kami memiliki pemandangan kolam renang yang unik, dan suasananya sangat tenang. Dengan tarif sekitar Rp2.500.000 per malam, hotel ini menyuguhkan pengalaman menginap yang eksklusif dan penuh estetika.

Salah satu hal yang paling menarik adalah pertemuan kami dengan Riska, staf hotel yang sangat profesional dan ramah. Awalnya kami kira dia sudah lulus kuliah, ternyata dia masih kelas 2 SMK dan sedang magang di hotel tersebut. Sungguh menginspirasi!

Kami juga sempat berbincang soal kehidupan di Ubud. Riska ternyata berasal dari desa di Kintamani, dan ia ngekos di Ubud dengan harga Rp3 juta per bulan. Cerita ini membuat saya semakin kagum dengan semangat anak-anak muda Bali dalam bekerja dan belajar.

Hotel ini juga memiliki banyak cerukan dan ruang tersembunyi, membuatnya terasa sangat luas dan privat. Fasilitas seperti bathtub menambah kenyamanan tinggal.

🗿 Taman Dedari: Seni, Elegansi, dan Cita Rasa

Perjalanan kami lanjutkan ke Taman Dedari, yang ternyata bukan taman biasa, melainkan restoran artistik dengan patung-patung dewi-dewi penari setinggi 8-10 meter. Detail lekukan kain dan selendangnya seperti tertiup angin, sangat hidup dan memukau.

Restorannya juga memiliki nuansa elegan dan pelayanan kelas atas. Makanan disajikan dengan cepat dan rapi. Jus alpukatnya pas — tidak terlalu manis, dan penyajiannya sangat profesional. Ketika kami asyik berfoto-foto, makanan kami ditutup tudung cantik, dan piring bekas dibawa dengan dorongan khusus yang tertutup kain hitam agar tak terlihat pengunjung — sebuah sentuhan elegan yang jarang ditemui.

Tempat ini ramai dikunjungi wisatawan, terutama bule, dan saya memperkirakan lebih dari 100 orang hadir saat itu. Patung-patung buatan seniman Bali menambah kekayaan artistik tempat ini. Elegan dan menakjubkan menjadi satu.

🪞 Sari Timbul Glass: Kabut, Ikan Koi, dan Hutan Mini

Berikutnya, kami menuju Sari Timbul Glass — sebuah tempat wisata yang masih tergolong baru namun sangat instagenik. Tiket masuknya Rp50.000 per orang, sudah termasuk layanan foto gratis dari empat fotografer berbeda dengan latar spot yang unik-unik.

Tempat ini memiliki kolam buatan dengan kabut asap tiruan, ikan koi besar, dan hutan mini buatan. Patung-patung besar dan gerbang masuk-keluar yang megah membuat tempat ini terasa seperti bagian dari dunia fantasi. Bagi pencinta foto, ini adalah surga spot visual.

🌾 Tegallalang Rice Forest: Keindahan Sawah Berundak

Perjalanan berlanjut ke Tegallalang Rice Forest, dan sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan sawah yang asri dan menyejukkan hati.

Meski hanya singgah sebentar karena mengejar destinasi berikutnya, biaya masuk Rp50.000 per orang terasa layak. Sawah terasering yang bertingkat-tingkat terlihat sangat megah dari atas. Jika ditaksir, tingginya dari atas ke dasar bisa mencapai 50 meter. Tersedia juga berbagai wahana seperti karpet terbang dan flying fox, menjadikannya tempat rekreasi yang cocok untuk semua usia.

🐾 Bali Zoo: Datang Terlambat, Sedikit Penyesalan

Kami sempat ingin mengunjungi Bali Zoo, yang menurut Google Maps tutup pukul 17.00. Namun kami tiba pukul 16.07, dan ternyata pintu masuknya sudah ditutup. Cukup disayangkan, karena kami sangat menantikan melihat berbagai satwa di sana. Mungkin lain waktu kami akan datang lebih awal.

🌉 Bali Glass Bridge: Terlewat Karena Malam

Kami juga sempat berencana ke Bali Glass Bridge, namun karena waktu yang sudah terlalu malam dan energi mulai menurun, kami akhirnya memutuskan untuk langsung menuju tempat menginap berikutnya.

🌅 Menginap di Pondok Pitaya: Suara Ombak dan Pantai Berkerikil

Awalnya kami ingin menginap di Amartha Beach Retreat, tapi sudah penuh. Akhirnya kami memilih Pondok Pitaya Hotel, sebuah penginapan dengan harga sekitar Rp900.000-an (termasuk pajak).

Meski lebih sederhana, namun lokasinya strategis dan langsung menghadap ke pantai Balian yang berkerikil. Suara debur ombak dan angin pantai menjadi pengantar tidur alami. Pengalaman ini menjadi penutup yang sempurna untuk hari yang penuh petualangan.


✨ Penutup: Satu Hari, Banyak Warna

Hari Sabtu ini sungguh penuh warna. Mulai dari tantangan fisik di Bukit Campuhan, kagum pada seni dan keramahan di Taman Dedari dan Sari Timbul, hingga kenyamanan hotel dan panorama alam yang menakjubkan, semua menjadi kenangan tak terlupakan.

Bali memang bukan hanya soal pantai dan sunset, tapi juga soal interaksi dengan manusia, seni, dan alam. Jika kamu merencanakan perjalanan ke Bali, semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi dan rujukan dalam menyusun itinerary yang berkesa

Leave a comment

Quote of the week

“Tugas kecil akan memakan waktu seharian jika kita izinkan. Tapi target besar dengan deadline? Ia memaksa fokus, kecepatan, dan pertumbuhanmu”

~ Parkinson’s Law